hai-hai... thank's very-very much ya buat kamu-kamu yang sudah meluangkan waktu buat mampir diblog ini. Meskipun content2nya belum sesuai dengan tema blog (belajar bareng), kuharap nggak menghalangi buat komentar...
Aku mempercepat langkahku menuju masjid Aqshal madinah yang terletak di depan asrama kami agar tidak ketinggalan shalat Shubuh. Berusaha agar tidak tidak terjangkiti penyakit buru-buru aku menahan sekuat mungkin keinginan untuk berlari mengejar ketertinggalan shalat berjamaah seperti yang dilakukan santri-santri SMP. Namun meski telah berusaha, aku tetap saja masbuk satu raka'at. Sebenarnya aku sudah bosan dengan keadaan ini, yaitu terlalu seringnya tertinggal untuk menjalankan shalat Shubuh berjama'ah. Bahkan, terkadang meskipun telah bangun lebih awal aku juga masih masbuk juga. Aku jadi malu dengan imam shalat yang selalu membalikkan badannya, berdzikir sambil melihat jama'ah shalat. Dan aku yakin, dia pasti melihatku dan hafal dengan wajahku. "Yee....Anak ini lagi..." mungkin dia berfikir seperti itu (semoga saja aku salah). Aaaah.... seharusnya aku lebih malu kepada Allah atas semua keteledoran ini.
Sedianya, tulisan ini mau diikutkan lomba "Menulis Resensi" pada Hari Buku, beberapa hari yang lalu. Tapi karena aku telat akhirnya nggak jadi disetorin. Akhirnya terbersit untuk dipostingkan aja. Karena ini yang pertama, pasti banyak salah, entah dalam susunan kalimat maupun penggunaan bahasa. Berharap temen-temen blogger berkenan untuk memberi masukan. Judul Buku : 1001 Cara Beerdakwah (Sukses Berdakwah Kapan pun dan di Mana pun Penulis : Abdullah Ahmad Al-'Allaf Penerjemah : Ardiansyah Ashri Hussein Penerbit : Ziyad Visi Media, Surakarta, Cetakan Pertama Ramadhan 1429 H/ September 2009 Tebal : Cover + 375 Halaman DAKWAH ITU ‘MUDAH’ LHO!!!! Jika kita mendengar istilah atau kata ‘dakwah’, yang sering terlintas dalam pikiran kita adalah seorang ustadz atau da’i yang se...
Ketika sedang berkunjung di blog teman , ada sebuah tulisan yang menggugah hati ini untuk pantang menyerah hadapi kehidupan meski cobaan mendera. Berkisah tentang nasehat salah seorang ustadznya sebelum ia berangkat menuntu ilmu. Simak langsung aja ya...! Semoga dapat kita ambil hikmahya. Bersabarlah….Semua Pasti ada HIKMAH-nya Masih teringat jelas dalam ingatanku, salah satu pesan yang diberikan oleh ustadzku di Desa ketika aku hendak menempuh pendidikan di Surabaya. Ketika itu, ustadzku bilang “Dimanapun kamu tinggal, terutama di lingkungan pesantren, kamu harus rela berkorban. Baik itu berkorban dengan hartamu, dengan waktu yang kamu miliki, maupun berkorban perasaan sekalipun”.
Puasa bisa menahan perbuatan dosa.
BalasHapuspuisi yang hanya terdiri dari 3 baris.
BalasHapushihi :p
met lebaran yaaa, minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin :D
harsu bnyak tobat
BalasHapus