Aku mempercepat langkahku menuju masjid Aqshal madinah yang terletak di depan asrama kami agar tidak ketinggalan shalat Shubuh. Berusaha agar tidak tidak terjangkiti penyakit buru-buru aku menahan sekuat mungkin keinginan untuk berlari mengejar ketertinggalan shalat berjamaah seperti yang dilakukan santri-santri SMP. Namun meski telah berusaha, aku tetap saja masbuk satu raka'at. Sebenarnya aku sudah bosan dengan keadaan ini, yaitu terlalu seringnya tertinggal untuk menjalankan shalat Shubuh berjama'ah. Bahkan, terkadang meskipun telah bangun lebih awal aku juga masih masbuk juga. Aku jadi malu dengan imam shalat yang selalu membalikkan badannya, berdzikir sambil melihat jama'ah shalat. Dan aku yakin, dia pasti melihatku dan hafal dengan wajahku. "Yee....Anak ini lagi..." mungkin dia berfikir seperti itu (semoga saja aku salah). Aaaah.... seharusnya aku lebih malu kepada Allah atas semua keteledoran ini.

monggo dipun lanjut


Kemaren sore, aku berkesempatan untuk silaturahmi ke rumah ustadz sekaligus dosenku. Kunjungan ini memang tidak direncanakan jadi, persiapannya pun seadanya. Ceritanya, ketika sedang asyik ngobrol dengan seorang teman sehabis shalat ashar di masjid, tiba-tiba muncul salah seorang mantan takmir menghampiri kita. Kemudian ikut nimbrungin tema obrolan yang kita bicarakan. Tidak tahu dari mana jluntrungnya (jawa: asal-usulnya), dengan tanpa ba bi bu aku keceplosan ngomong: "Aku kok pinginnya makan yang enak-enak ya???". 
Temanku yang pertama tadi nyletuk: "udah bosen makanan dapur tho pak???" (ndak, tahu kenapa kita terbiasa manggil teman kita dengan sebutan pak, bukan akhiy...atau yang lain, hingga suatu ketika aku ada pengalaman lucu pas lagi jajan di warung. Temanku bilang, "pesan apa pak?", terang aja pemilik warung terheran dan terbengong, haah...... baapak??? anak sekecil ini kok udak jadi bapak ya? mungkin dia berpikir begithu, padahal kawin aja belum.. he he he).
"Iya nih, bosen banget....", kataku. Kemudian, mantan takmir tadi bilang: "ke ustad Ashad (nama samaran) aja, bareng aku!". 

monggo dipun lanjut


Sore yang mulai digelayuti mendung tebal di ujung kota Surabaya, meski lelah 
(driji iki kaku kabeh, suwe gak ngeblog, mumpung ada koneksi gratis, manfaatke wae)

Udah hampir dua minggu ini, aku dan ketiga temanku berada disini. Magang di tempat yang pada awalnya asing bagi diriku, kini... seperti rumah sendiri aja, kesana kemari aku bebas, meski tak sebebas burung camar di atas sana.. Aku bersyukur, dapat jatah PMP (dulu PKL) disini. Begitu banyak keuntungan yang aku dapat, meskipun ada juga beberapa hal yang bikin sebel, tapi keuntungan yang berlebih itu dapat menutupinya. seperti kaidah fiqh "Apabila air itu telah mencapai 2 kulah maka tidak akan membawa kotoran/najis (najis yang ada  padanya tak berarti apa-apa). -terlepas dari perbedaan lhoo-. Sama halnya dengan kesedihan yang kurasakan di sini, takkan berarti karena begitu banyak "kesenangan" yang kudapat.

O iya... tadi aku belum bilang magang dimana, terlalu panjang siih pengantarnya. Aku magang di masjid Mujahiddin Tanjung Perak Surabaya. Sesuai namanya, masjid ini memang terletak di dekat tanjung perak pelabuhan terbesar di kota ini, tepatnya,,,,, kalo tidak salah kurang lebih 1,5 - 2 arah selatan dari pelabuhan tersebut. Asal tahu aja, masjid merupakan salah satu masjid tertua di Surabaya, sehingga memiliki sejarah yang lumayan panjang jika harus diceritakan.

monggo dipun lanjut


Ada ungkapan lama yang nggak bakalan lekang dimakan usia dan patut dijadikan bahan renungan:

“Hidup untuk makan atau makan untuk hidup?”
Idealnya, kita makan untuk hidup, namun seringkali kita lupa,sehingga menganggap kalau hidup kita hanya untuk makan.
Postingan kali ini bukan mau membahas itu, apalagi berfilosofi tentangnya (nggak nyampe sob). Aku hanya ingin bercerita saja tentang kejadian yang kualami dalam aktivitas keseharian (makanya aku labelin mydiary (meski lebih tepat disebut uneg-uneg, biar ngejreng githu).  Tentu saja cerita yang ada kaitannya dengan makan-memakan sesuai judul. Ha ha ha hemmm nyaem-nyaemmmm…...
Siang tadi, seperti biasa selepas shalat dhuhur di masjid kampusku “Aqsal Madinah”, aku segera menuju kekamar untuk ganti baju setelah sebelumnya ngaji sebentar dan muroja’ah hafalan. Seperti biasa juga, ketika sedang ngaji, teman-teman satu kamar pasti berseliweran kesana kemari, keluar masuk, naik turun entah apa yang dicari (seandainya,,, aku tahu isi hati mereka..>>), ada yang ngajak makan, ada yang tanya odol, pinjam buku, tanya mufrodat, minta diajarin, dll (“ngganggu orang ngaji saja pikirku”, *yang ini jangan ditiru*). Setelah dirasa cukup ngaji dan muroja’ahnya, ada sesuatu yang mengetuk dinding perut ini, ya,,, aku harus segera makan, kata bapak, kalo makannya telat nanti bisa kena maag,,,, yahhh,, jadi ingat rumah nih.

Dengan gerakan yang cukup gesit aku segera meletakkan kitab suciku, ganti baju, lari tanpa sandal (rupanya ada yg take without permission lagi alias ghosob) menuju dapur tersayang, karena di tempat itulah selama kurang lebih 6 bulan ini memenuhi hasrat makanku (3 tahun lalu tempat makannya masih nggak karuan, ikuti episode selanjutnya).

Seperti biasa lagi (kok miskin kosa kata banget sih), santri-santri mulai dari smp, sma, pt, sampe ustadz2 langsung menuju mas Edy yang wajahnya mirip vokalis ST 12 untuk mengambil makan siangnya. Akupun begitu, nggak mau ketinggalan, ntar nggak kebagian lagi. Biasanya, kalo telat sih memang gak kebagian nasi, memang harus terapkan strategi “siapa cepat siapa dapat”. Keberadaan dapur baru ini, terutama para mahasiswa merupakan anugerah tersendiri yang sangat luarbiasa. Karena semenjak dapur ini berdiri, selera makan kami meningkat, meski jatah nasi berkurang. Itu dikarenakan jatah makan kami disamakan dengan santri SMP-SMA yang bayar dan tentu saja jatah makannya lebih waahhh. Sebagai mahasiswa yang nggak bayar, harus rela makan apa saja, asal bisa dimakan. (lihat suatu saat nanti).

Ya,,, semenjak makan kami bareng sama santri-santri SMP-SMA, lauk yang dimakan lumayan enak daripada yang dulu. Namun, bila tidak bersama mereka kami harus rela makan   kembali kemasa lalu. Misalnya ketika mereka libur atau pualng kerumah, pasti lauk makan kita….. jadi nggak tega menulisnya. Tapi tidak mengapa, karena hidup ini pengorbanan, kami hanya bisa membayangkan kondisi dirumah, ketika dekat dengan keluarga, meski makan seadanya, kenikmatan terasa.
Dan siang tadi, keadaan tersebut terulang. Karena mereka sedang pulang ke rumah setelah tiga hari camping sekaligus bhakti sosial di Claket (itu tuh pemandian air hangat di Mojokerto), mereka harus pulang untuk istirahat. Sebenarnya aku nggak setuju peraturan ini, masak mudah sekali mereka pulang, lha wong belajar kok sering pulang, sedangkan yang mahasiswa kalo izin pulang pasti dipersulit.

Jatah makan siang kali ini adalah mihon yang digoreng (otomatis berminyak, dan aku kurang begitu suka) plus krupuk 2 (dua) biji (Alhamdulillah). Kulihat, wajah teman-teman seperti merana dengan lauk pauk seadanya itu.
Tapi, aku teringat salah satu temenku yang selalu menikmati kondisi itu. Karenanya diantara teman-teman yang lain dia paling subur plus gemuk. Mungkin karena dia menikmati apa yang disajikan ibu dapur atau entah memang anaknya termasuk manusia jenis yang memakan apa saja.
Suatu ketika temen pernah bilang kalo dia pernah bertanya kenapa dia bisa makan dengan lahap jika lauknya seperti itu. Dengan enteng dia menjawab : “aku ini enak makan bukan makan enak, jika makanannya tidak enak kita enakin aja makannya”. Ooo…. Jadi selama ini,,,,
Aku termenung, mungkin selama ini aku kurang bersyukur. Seharusnya apa yang ada harus aku syukuri. (Eehhh nasinya dah habis).
*******______********